Suamiku Penyabar dan Pemaaf

Posted by on 11 Sep 2012, 17:07 in Blog | in tag: | 0 comments

Perkawinan itu telah berjalan empat tahun, namun pasangan suami-istri itu belum juga dikaruniai seorang anak pun. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami-istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab menyimpulkan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak. Melihat hasil seperti itu, sang suami mengambil inisiatif menjumpai dokter.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki. Sang suami berkata kepada sang dokter, “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa. Katakan saja saya yang mandul.” Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran.

Akan tetapi sang suami yang begitu mencintai istrinya, terus mendesak dan memaksa sang dokter. Dia menjelaskan kepada dokter akan akibat yang akan terjadi pada istrinya bila mengetahui dirinya mandul. Istrinya pasti tidak dapat menerima kenyataan ini dan pasti akan stres berkepanjangan. Akhirnya setelah dibujuk berukang kali, dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata, “… Oooh, kamu yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.”

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami memejamkan matanya dan terlihat pada raut wajahnya, wajah seseorang yang menyerah pada rencana dan pengaturan Tuhan.

Lalu pasangan suami-istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami-istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, dimana sang istri berkata kepada suaminya, “Wahai suamiku, saya telah bersabar selama embilan tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata: “Betapa baik dan salehnya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan.”

Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.”

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata, “Istriku, ini cobaan dari Tuhan. Kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata, “Ok, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih.” Sang suami setuju, dan dalam dirinya dipenuhi harapan besar, semoga Tuhan memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa minggu kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya, “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan ….” Sang istri pun dirawat di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata, “Maaf, saya ada tugas keluar negeri dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?” kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat,” kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, ternyata ada orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya, “Suami apaan dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ternyata sang donatur itu tidak lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga, dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan puji Tuhan … beberapa bulan dari operasi itu, sang istri ternyata hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga. Suasana rumah tangga kembali normal.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan.

Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya. Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelepon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali. – Selesai –

———

Kadang dalam menjalani kehidupan, sering kita hanya mementingkan diri sendiri, tanpa berusaha memahami pasangan ataupun keluarga kita. Sekalipun pasangan dan keluarga telah berusaha menunjukkan sisi kebaikannya, namun keegoisan kita telah menutup mata hati kita, sehingga kita tidak pernah merasakan kebaikannya.

Marilah kita membuka pintu hati kita, menerima pasangan, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita apa adanya dengan dilandasi rasa syukur. Sayangilah mereka. Tunjukkan betapa kita benar-benar memperhatikan mereka. Hanya dengan perhatian dan kasih sayang, saling pengertian dan saling memahami, saling memaafkan dan melengkapi, barulah tercipta keluarga harmonis yang bahagia, keluarga yang dipenuhi senda gurau dan tawa ria setiap harinya.

Source: SL-Books Facebook

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>