Donor Darah Gratis, Butuh Darah Bayar?

Posted by on 21 Nov 2012, 17:44 in Blog | in tag: , | 0 comments

“Setelah dipikir-pikir, rugi juga kita yah kalo donor darah, sekali ada yang membutuhkan darah yang kita sumbangkan, malah diperjualbelikan.”

“Darah yang kita kasih cuma-cuma, tapi kok malah dijual mahal oleh PMI?”

“Kita dengan ikhlas nyumbang darah supaya orang yang membutuhkan gampang dapetinnya, tapi malah dijual mahal.”

Seberapa sering Anda mendengar pertanyaan seperti ini dan belum ketemu jawabannya?

Jika kita melihat dengan logika sederhana, memang seolah tampak seperti komersialisasi darah. Tetapi jika kita paham proses yang sesungguhnya mengenal alur dari mulai pendonor hingga darah siap ditransfusikan, maka akan terjawab pertanyaan tersebut di atas. Berikut ini kami merangkum dari berbagai sumber, penjelasan mengapa pada saat mendonor darah gratis, tetapi saat membutuhkan kita harus bayar darah tersebut. Kita mulai dari proses pengelolaan darah.

PENGELOLAAN DARAH


Yang dimaksud dengan pengelolaan darah adalah tahapan kegiatan untuk mendapatkan darah sampai dengan kondisi siap pakai, yang mencakup antara lain :

  • Rekrutmen donor
  • Pengambilan darah donor
  • Pemeriksaan uji saring
  • Pemisahan darah menjadi komponen darah
  • Pemeriksaan golongan darah
  • Pemeriksaan kecocokan darah donor dengan pasien
  • Penyimpanan darah di suhu tertentu
  • Dan lain-lain

Untuk melaksanakan tugas tersebut dibutuhkan sarana penunjang teknis dan personil antara lain :

  • Kantong darah
  • Peralatan untuk mengambil darah
  • Reagensia untuk memeriksa uji saring, pemeriksaan golongan darah, kecocokan darah donor dan pasien
  • Alat-alat untuk menyimpan dan alat pemisah darah menjadi komponen darah
  • Peralatan untuk pemeriksaan proses tersebut
  • Pasokan daya listrik untuk proses tersebut
  • Personil PMI yang melaksanakan tugas tersebut

Peranan ketersediaan prasarana di atas sangat menentukan berjalannya proses pengolahan darah. Untuk itu pengadaan dana menjadi penting dalam rangka menjamin ketersediaan prasarana tersebut, PMI menetapkan perlunya biaya pengelolaan darah (service cost).

SERVICE COST


Besarnya jumlah service cost yang ditetapkan standar oleh PMI, sesuai SK Gubernur No. 158 tahun 2010 tanggal 28 Januari 2010 adalah Rp. 130.000,-/kantong (untuk RS Pemerintah) dan Rp. 250.000,-/kantong (untuk RS Swasta). Sedangkan untuk Rumah Sakit di luar DKI Jakarta (RS Pemerintah maupun RS Swasta) adalah Rp. 250.000,-/kantong.

Namun demikian dalam prakteknya di beberapa rumah sakit, terutama swasta, jumlahnya bisa disesuaikan dengan keadaan rumah sakitnya oleh karena adanya kebijakan “subsidi silang”. Bagi yang tak mampu, pembebasan service cost juga dapat dikenakan sejauh memenuhi prosedur administrasi yang berlaku.

Service cost tetap harus dibayar walaupun pemohon darah membawa sendiri donor darahnya. Mengapa demikian? Karena bagaimana pun darah tersebut untuk dapat sampai kepada orang sakit yang membutuhkan darah tetap memerlukan prosedur seperti tersebut di atas.

FAKTA-FAKTA

  • Kantong darah bukan kantong biasa, tetapi kantong yang didesain khusus supaya darah tidak mudah beku dan rusak.
  • Kebutuhan darah di Indonesia mencapai 4,5 juta kantong per tahun. Jika biaya 1 kantong darah sebesar Rp 250.000, maka diperlukan total biaya Rp 1,125 milyar untuk pengelolaan darah.
  • Transfusi darah tidak seperti di film-film, dari si pendonor langsung ke penerima, proses seperti ini sangat berbahaya. Darah tetap harus melalui proses pengelolaan darah dan sebelum transfusi akan dilakukan uji silang kecocokan darah pendonor dan pasien.
  • Sesuai dengan keputusan dari WHO, penyakit yang dicek di darah adalah : HIV, Syphilis/Rajasinga/Treponema, Hepatitis B, Hepatitis C.
  • Satu kantong darah juga akan diproses/dipisah lagi sesuai dengan komponen darah, seperti plasma darah, trombosit, dsb. Ada pasien yang hanya membutuhkan plasma darah saja, ada yang butuh darah merah, ada yang butuh trombositnya saja.
  • Proses pemisahan trombosit dinamakan Apheresis. Komponen biayanya sebagian masih disubsidi oleh pemda, Rp 3,5 juta jadi beban penerima donor.
  • Usia penyimpanan darah adalah 28 hari. Darah yang tidak terpakai akan dibuang melalui proses pengolahan limbah. Proses pengolahan limbah ini pun perlu biaya sekitar Rp 300 juta setiap tahun.


SUMBER :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>