“Asyiknya” Berbuat Tidak Baik

Posted by on 1 Dec 2012, 15:01 in Blog | in tag: | 0 comments

Seorang anak diminta untuk memimpin teman-temannya di kelas untuk membantu menjaga ketertiban di kelas. Begitu mendengarnya, si anak menjadi ragu dan khawatir. Nanti akan menemui banyak kesulitan untuk memimpin, nanti disangka tidak setia kawan, nanti dianggap kaki tangan sang wali kelas, dan sebagainya.

Sementara anak yang lain diajak untuk ikut membolos bersama-sama dengan teman-temannya. Tiada kekhawatiran, ia berpikir alangkah asyiknya tidak masuk sekolah, pasti nyaman berjalan bersama-sama teman-teman sementara temannya yang lain sedang "kesulitan" di sekolah.

Memang itu contoh yang ekstrim tapi nyata. Betapa banyak di antara kita kalau diajak untuk menjadi baik maka yang kita pikirkan ada begitu banyak kekhawatiran, nanti sulit, nanti tidak nyaman, nanti disangka orang sok suci, dan sebagainya. Saat melakukan yang jelek, justru kita mempunyai banyak angan-angan indah dan harapan, nanti akan mengasyikkan, nanti bisa nyaman, nanti mendapat "kesenangan", dan sebagainya.

Mengapa itu terjadi? Tidak lain karena memang dalam berpikir yang menjadi landasan berpikir kita kebanyakan seringkali adalah keinginan! Seandainya landasan berpikir yang kita gunakan adalah kebijaksanaan, maka saat yang baik hendak dilakukan justru timbul harapan yang luhur dan saat yang jelek "menggoda" yang muncul adalah takut dan malu akan akibatnya.

Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever. (Mahatma Gandhi)

Belajar dari yang berlalu, bermawas pada saat ini, & Berkesadaran menyongsong esok.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>