Antara Lidah dan Sendok – Bhante Uttamo

Posted by on 18 Dec 2012, 15:24 in Blog | in tag: | 0 comments

Tidak ada pelajaran dalam agama Buddha yang mengatakan bahwa dengan namaskara bisa dapat berkahnya Buddha. Tidak ada. Kita bernamaskara, Buddha tidak tersenyum. Kita tidak namaskara, Buddha tidak apa-apa. Tetapi bernamaskara atau tidak, itu berhubungan dengan diri kita sendiri.

Pada saat kita bernamaskara, sebetulnya pikiran, ucapan, dan perbuatan kita diarahkan kepada hal positif. Kita berusaha berkonsentrasi sehingga bernamaskara tiga kali. Dengan bernamaskara, kita membutuhkan waktu minimal setengah sampai satu menit untuk punya pikiran, ucapan, dan perbuatan benar. Makin banyak kita namaskara, makin banyak kita menanam kamma baik.

Patung Buddha hanyalah sebagai obyek, sasaran, atau sarana kita untuk menanam pikiran, ucapan dan perbuatan benar. Begitu pula bernamaskara pada seorang bhikkhu. Itu bukan namaskara buat bhikkhunya. Bukan namaskara sama jubahnya. Tetapi bhikkhunya sebagai obyek untuk menanam kamma baik lewat pikiran, ucapan dan perbuatan.

Ketika kita bernamaskara pada rupang Buddha, yang posisinya bumisparsa mudra, sebetulnya ini menunjukkan bahwa kita harus bertekad jangan sampai patah semangat sebelum mencapai cita-cita. Apa pun yang menghalangi harus kita hadapi untuk mencapai tujuan akhir. Sebelum cita-cita tercapai jangan pantang mundur.

Kita harus bertekad, harus teguh, harus kuat. Kenapa? Karena kita melihat contohnya, Buddha guru kita. Kalau guru kita berani bertekad kuat tidak akan beranjak dari meditasinya sebelum mencapai cita-cita (kesucian -red), maka kita pun juga sebagai murid-muridNya harus bisa. Ini adalah salah satu mudra. Ada banyak mudra, tapi yang diterangkan hanya satu mudra. Supaya kita sebagai umat Buddha tidak ada kata patah semangat. Harus selalu bersemangat. Kalau punya cita-cita, tetaplah teguh. Seperti yang dilakukan Buddha.

Lalu soal baca paritta. Tidak jarang di antara kita ada yang mau membaca paritta untuk hal yang aneh-aneh.

“Bhante, paritta apa supaya tidak digigit anjing?”
“Baca saja ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia.’”
“Kalau supaya nggak dicopet?”
“Semoga semua makhluk hidup berbahagia.” Itulah parittanya.

Kenapa? Kadang-kadang kita suka aneh-aneh. Supaya tidak digigit anjing pakai paritta ini, agar tidak dicopet, baca paritta itu. Jadinya kita seperti menghapal “mantra-mantra”. Seperti sekolah kedukunan saja. Padahal agama Buddha bukan begitu.

Sebenarnya membaca paritta juga mengarahkan kita supaya punya pikiran baik, ucapan baik, dan perbuatan baik.

Misalnya dalam paritta Abhinhapaccavekkhana disebutkan, aku akan mengalami usia tua, aku belum bisa mengatasi usia tua, aku akan mati, dan aku belum bisa mengatasi kematian. Berarti kita bisa tua dan bisa meninggal. Padahal sekarang masih muda, masih belum meninggal. Mumpung masih muda, masih belum meninggal, kita harus mengembangkan kebaikan, belajar banyak paritta, belajar Dhamma, dan melaksanakannya dengan baik. Semangat hidup akan muncul untuk memanfaatkan setiap momen kehidupan dalam mengembangkan diri.

Inilah salah satu manfaat menjadi “lidah-lidah” Dhamma. Sebagai lidah, kita langsung bisa merasakan rasa asin, manis, dan asam. Demikian pula sebagai umat Buddha, walaupun baru sekali kita mengenal Dhamma tetapi kalau kita mengerti intinya bahwa Dhamma adalah pembawa semangat kehidupan, sehingga tidak akan pernah ragu, tidak pernah patah semangat, maka hidup kita akan selalu diisi dengan prestasi, hasil gemilang dari usaha dan perjuangan kita. Jadilah lidah yang baik. Janganlah menjadi sendok yang tidak pernah mengetahui rasa makanan.

Semoga kita berbahagia di dalam Dhamma. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak memperoleh kebaikan dan kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing.

Dari : Broadcast BBM

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>