Konsep Mukjizat Menurut Ajaran Buddha

Posted by on 15 Jan 2013, 18:23 in Blog | in tag: , | 0 comments

Dikisahkan pada zaman Buddha, seorang bhikkhu bernama Pindola Bharadvaja, ketika pulang ke wihara setelah pindapata, melihat suatu sayembara. Seorang hartawan asal Rajagaha ingin mengetahui apakah masih ada seorang petapa atau brahmana yang dapat menunjukkan kesaktiannya. Hartawan itu mengikat sebuah bokor cendana di atas tiang bambu. Barang siapa yang dapat mengambil bokor cendana itu tanpa menyentuh tiang bambu itu, boleh memilikinya.

Sudah beberapa hari berlalu tapi belum ada satu pun dari para petapa yang datang dapat memiliki bokor itu. Hartawan tersebut menjadi kecewa dan bermaksud ingin menutup sayembara karena berpikir tidak ada orang sakti di dunia ini. Bhikkhu Pindola Bharadvaja tiba di tempat itu dan dengan kekuatan gaibnya beliau terbang ke angkasa dan mengambil bokor tersebut. Selanjutnya, beliau kembali menunjukkan kekuatan gaibnya dengan terbang mengitari Rajagaha tiga kali. Semua orang kagum dan membicarakan kejadian itu di mana-mana. Peristiwa tersebut menjadi topik pembicaraan para bhikkhu di wihara.

Buddha mendengar suara penduduk yang ramai bertepuk tangan. Beliau bertanya kepada Yang Mulia Ananda, "Ananda, kepada siapakah mereka sedang bertepuk tangan?"

Yang Mulia Ananda menjawab, "Pindolabharadvaja telah terbang ke udara dan mengambil mangkuk yang terbuat dari kayu cendana merah dan penduduk bertepuk tangan untuknya."

Buddha lalu memanggil Yang Mulia Pindolabharadvaja untuk menghadap dan berkata, "Apakah benar engkau telah melakukan seperti yang telah dilaporkan?"

"Benar, Yang Mulia."

"Bharadvaja, mengapa engkau melakukan hal ini?"

Buddha lalu menegur dan menyuruhnya memecahkan mangkuk tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan menyerahkan potongan-potongan kayu tersebut kepada para bhikkhu untuk digiling dan dijadikan bubuk kayu cendana. Kemudian Buddha menetapkan peraturan yang melarang para bhikkhu menunjukkan kekuatan supranatural kepada perumah-tangga. Beliau mengatakan bahwa seorang bhikkhu yang menunjukkan kekuatan supranatural kepada umat awam ibarat seorang wanita, demi sedikit uang, menunjukkan bagian-bagian tubuhnya yang memalukan di depan publik.

Dalam Vinaya Pitaka, Buddha juga menetapkan peraturan bagi para bhikkhu bahwa barang siapa mengaku memiliki kesaktian padahal tidak memilikinya maka bhikkhu tersebut harus meninggalkan kebhikkhuan (Sangha). Namun demikian, bagi yang memang memiliki dan mempertunjukkannya kepada perumah-tangga akan dikenakan sanksi dukkata dan harus mengakui kesalahannya kepada bhikkhu lain. Jelaslah Buddha sendiri tidak menginginkan para bhikkhu memamerkan kesaktian walaupun memilikinya.

Sementara itu, kepada brahmana Sangarava, dalam Anguttara Nikaya (A.III.60), Buddha menjelaskan ada tiga macam mukjizat. Apakah tiga mukjizat itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran.

"Apakah yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu dia berubah menjadi banyak; setelah menjadi banyak dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah melewati ruang; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila dia pergi melalui udara bagaikan seekor burung; dengan tangannya dia menyentuh dan membelai matahari dan rembulan, begitu kuat dan berkuasa; dia menggunakan penguasaan atas tubuhnya bahkan sejauh alam Brahma. Inilah, brahmana, yang disebut kekuatan supranormal."

"Apakah yang merupakan mukjizat membaca pikiran? Ada orang yang dengan sarana tanda, menyatakan, `Demikianlah pikiranmu, seperti inilah pikiranmu, demikianlah buah pikirmu.’ Dan betapa pun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah."

"Orang lain tidak membuat pernyataannya lewat sarana tanda, melainkan setelah mendengar suara manusia, suara makhluk halus atau dewa? atau dengan mendengarkan suara getaran buah pikir seseorang? atau secara mental menembus arah kecenderungan mentalnya ketika dia berada di dalam keadaan meditasi yang bebas dari buah pikir. Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah. Inilah yang disebut mukjizat membaca pikiran."

"Dan brahmana, apakah mukjizat pengajaran? Ada orang yang mengajarkan demikian, `Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan berpikir dengan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ Inilah yang disebut mukjizat pengajaran."

"Inilah, O brahmana, tiga jenis mukjizat. Dari tiga jenis mukjizat ini, yang manakah yang tampak bagimu sebagai yang paling bagus dan paling tinggi?"

"Mengenai mukjizat kekuatan supranormal dan pembacaan pikiran, Guru Gotama, hanya pelakunya saja yang akan mengalami hasilnya; hasilnya hanya dimiliki oleh orang yang melakukannya. Kedua mukjizat ini, Guru Gotama, bagi saya tampak memiliki sifat tipuan tukang sulap. Tetapi mengenai mukjizat pengajaran – inilah, Guru Gotama, yang bagi saya tampak sebagai yang paling bagus dan paling tinggi di antara ketiganya."

Bila dalam ajaran lain, Keajaiban atau Mukjizat dijadikan daya tarik dan selling point yang diagung-agungkan untuk menarik pengikut baru, maka Anda akan melihat hal yang bertolak belakang mengenai hal itu dalam agama Buddha.

Buddha selalu mengajarkan untuk ‘Ehipassiko’, datang, lihat, dan buktikan. Jadi sebelum percaya pada sesuatu hal mari lihat dan buktikan terlebih dahulu.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=483777231675222&set=a.186740244712257.56256.100001288482743&type=1

Dari : Broadcast BBM

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>