7 Perbedaan Ajaran Buddha

Posted by on 24 Jan 2013, 10:10 in Blog | in tag: | 4 comments

7 Keunggulan Perbedaan Ajaran Buddha.

Apa sajakah keunggulan perbedaan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta
Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya.

2. Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal
Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya
Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung
Buddha bersabda, "Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri."
Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka ataupun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin.

5. Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci
Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.
Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun – ajaran Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan.

6. Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan
Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.”

7. Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat
Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya.

Namo Buddhaya
Anumodana

SUMBER : Broadcast BBM

Artikel ini awalnya berjudul “7 Keunggulan Ajaran Buddha”. Tetapi karena dirasakan kata “keunggulan” seakan-akan menjerumuskan ke arah fanatisme dan merendahkan ajaran agama lain, maka kami merubahnya menjadi kata “perbedaan” yang lebih menunjukkan pluralisme agama.

4 Comments

  1. PRAWATA says:

    sebaiknya kata ” keunggulan” diganti dgn “perbedaan.. karena itu seperti merendahkan ajaran lain.. padahal tujuan ajaran budha tidak untuk mencari massa..
    kata “keunggulan” seperti menunjukan kalau anda itu fanatik.. padahal fanatik itu adalah salahsatu kemelekatann..
    dan, bikhu ananda sulit mencapai arahat karena melekat pada budha..

    maaf kalau ada yg salah dgn komentar saya..NAMMO BUDDHAYA..

    • Eric Lanvin says:

      Hai halo Pak Prawata, terima kasih banyak untuk masukannya ya. Memang masuk akal apa yang Pak Prawata katakan. “Keunggulan” seakan-akan merendahkan ajaran agama lain. Akan tetapi artikel ini bukanlah kami yang buat. Tapi kami akan mengeditnya.

  2. Shindu says:

    Kepada Erik,

    Sy ingin memberikan komentar untuk no 4

    4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung
    Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri.”
    Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka ataupun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin.

    penjelasannya seharusnya:
    ‘Para bhikkhu, jadilah pulau bagi diri kalian sendiri, jadilah pelindung bagi dirimu sendiri, jangan ada perlindungan lainnya. Jadikan Dhamma sebagai pulau bagi dirimu, jadikan Dhamma sebagai pelindungmu, jangan ada perlindungan lain. Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam sebagai pulau bagi diri sendiri, sebagai pelindung bagi dirimu sendiri, tanpa ada perlindungan lainnya, dengan Dhamma sebagai pulau baginya, dengan Dhamma sebagai pelindung, tanpa ada pelindung lainnya? Di sini, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keserakahan dan belenggu terhadap dunia, ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan, … ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran, … ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, dengan sadar jernih, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keserakahan dan belenggu terhadap dunia.’

    yang secara singkat berarti
    bersandarkan diri pada Dhamma dan pada kesungguhan, ketekunan dan perhatian.

    Dan kalau boleh diganti
    no 3 pun perlu dikonsider ulang agar tertulis
    setiap umat Buddha harus memiliki keyakinan terhadap Dhamma terlebih dahulu, baru bisa memasuki Dhamma.
    seperti umat awam jaman dahulu yang belum bertemu dengan Buddha,
    biasanya akan terkesan kemudian memiliki keyakinan lah terlebih dahulu terhadap Buddha barulah ia menjadi umat Buddha yang menjalankan ajarannya yang lurus dan bersih, dibawah bimbingan Beliau.

    Benar tidak diperintahkan, tapi perlu yakin terlebih dahulu, baru bisa menapaki jalan Dhamma. orang yang tanpa keyakinan ataupun ragu akan Dharma itu sendiri biasanya tidak mencapai hasil apa apa, bahkan bisa tersesat, bagaikan domba yang kehilangan jejak sang Gembala.

    Mohon maaf bila ada yang salah, dan bisa didiskusikan kembali.

    salam sejahtera.

    • Eric Lanvin says:

      Hai halo Shindu, terima kasih banyak atas masukannya.

      Memang masuk akal masukan yang Shindu katakan, akan tetapi artikel ini bukanlah kami yang membuatnya. Karena menurut kami artikel ini menarik dan mempunyai arti, maka kami mem-post kembali di sini.

      Jika kami merombaknya, itu akan sangat mengurangi esensi asli artikel ini.

      Sekali lagi terima kasih ya.

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>